Porn Stories Lonte masjid
🔥 WARNING: EXTREMELY EXPLICIT TEXT CONTENT! USERS MUST BE 18+ 🔥
**Dosa dalam Diam**
Aku selalu merasa berdiri di tepian dosa setiap kali mataku mencuri pandang ke arahnya di masjid itu. Raita, cewek berhijab yang wajahnya selalu terlihat teduh saat berdoa, tapi entah kenapa, di balik kerapian jilbabnya, selalu ada sesuatu yang bikin napasku tersengal.
Hari ini, seperti biasa, aku duduk di shaf belakang, tapi pikiran nggak fokus sama sekali. Aku memperhatikan lenggak-lenggoknya saat dia rukuk, bokongnya yang padat menonjol di balik rok panjangnya, membuat imajinasiku liar. Aku tahu ini haram, tapi nafsu lebih kuat dari penyesalan.
Setelah jamaah selesai, masjid sepi tinggal beberapa orang yang masih berdzikir. Raita berdiri di dekat pintu, seperti menunggu sesuatu. Aku mendekatinya, berpura-pura bertanya tentang kajian.
“Afwan, kajian besok jam berapa ya?” tanyaku sambil menatap lehernya yang halus.
Dia menoleh, matanya teduh tapi ada sesuatu yang gelap di balik itu. “Jam tujuh,” jawabnya pendek, lalu bibirnya agak terkatup seperti tahu ada niat kotor di kepalaku.
Aku melangkah lebih dekat, suara ku bisik pelan. “Kamu tahu nggak, aku selalu kepikiran kamu tiap sholat di sini.”
Raita nggak langsung marah. Justru pipinya memerah, dan napasnya terengah. “Kamu… jangan ngomong gitu di masjid,” gumamnya, tapi tangannya nggak menolak saat aku pegang pergelangannya.
Aku tarik dia ke sebuah ruang kecil di belakang, tempat menyimpan sajadah. Begitu pintu tertutup, tanganku langsung meraba pinggangnya, menariknya dekat. “Kamu selalu keliatan begitu suci di depan orang, tapi aku bisa lihat caramu memandangku,” geramku sambil menekan tubuhnya ke dinding.
Dia mendesah, jilbabnya sedikit tergeser, memperlihatkan rambut hitam yang panjang. Tanganku langsung menyusup ke dalam roknya, merasakan panasnya paha. “Astaghfirullah… kita nggak boleh—” ucapnya, tapi nafasnya terputus saat jari-jariku menemukan celana dalamnya yang sudah lembab.
“Kamu basah,” bisikku sambil menggosok klitorisnya lewat kain. Raita mengerang, tangannya mencengkeram bajuku, wajahnya dipenuhi konflik antara dosa dan nikmat.
Aku jatuhkan dia ke tumpukan sajadah, membuka jilbabnya pelan-pelan. “Aku mau lihat semuanya,” gumamku sambil menarik baju koko-ku, melepas ikat pinggang. Begitu celanaku turun, kontolku sudah keras menuntut.
Raita melihatnya, matanya membesar, tapi lidahnya menjilat bibir. “Ini… haram…”
“Tapi kamu mau,” balasku sambil mendorongnya telentang. Kukupas celana dalamnya, melihat pussy-nya yang merah, sudah mengembang. Tanpa basa-basi, kumasukkan dua jariku, mendorong dalam. “Sumpah, kamu lebih ketat dari yang kubayangkan.”
Dia menjerit, tangannya memegangi sajadah di sampingnya. “Ya Allah… aku—ahh!” Rintihannya terpotong saat kulumat klitorisnya, lidahku bergerak cepat di atasnya. Rasanya manis, dan semakin basah saat jari-jariku terus mengisi.
“Nggak tahan, ya? Di masjid, dikentot?” ejekku sambil bangkit, memposisikan kontolku tepat di mulut vaginanya.
“T-tunggu—” Raita memohon, tapi sudah terlambat. Kuterjang masuk sekaligus, membuatnya tercekik rintihan. Panas dan sempitnya bikin aku nggak bisa berkata-kata, hanya bisa menggerakkan pinggang dengan kasar.
“Kamu… kencang banget…” Aku menggeram, memegangi pinggulnya erat. Setiap dorongan membuatnya menjerit, tapi mulutnya ditutupi tangannya sendiri.
“Jangan keras-keras… orang bisa dengar,” bisiknya ketakutan, tapi tubuhnya malah mendorong balik, menuntut lebih.
Kupercepat ritme, menggenggam jilbab yang terlepas, memakainya untuk menutup mulutnya saat dia mulai terlalu berisik. “Kalo kamu nggak mau ketahuan, diam,” geramku sambil menghajar vaginanya lebih dalam.
Dia mengangguk, matanya berkaca-kaca antara malu dan nikmat. Aku bisa merasakan kontolku semakin tegang, dan pussy-nya mengerut seperti mencoba menahanku.
“Kita berdua nggak boleh… nggak boleh selesai di sini,” katanya parau, tapi tangannya memegang bokongku, menarikku lebih dalam.
Aku nggak tahan. Dengan beberapa dorongan terakhir, aku memuntahkan cum dalam-dalam ke vaginanya, membuatnya gemetar dan mengerang panjang. Tubuhnya mengencang, dan aku tahu dia juga climax.
Kami tergeletak di lantai, napas tersengal, di antara sajadah-sajadah yang terserak.
“Kita… masuk neraka,” bisik Raita sambil menatap langit-langit.
Tapi ketika kulihat bibirnya yang masih basah, aku tahu satu hal—besok, kami akan melakukannya lagi.
Enjoyed this story? Generate another one or explore more tales!